[FF] Twins Star (special jo twins birthday)

Title : Twins Star

Author : Ekha Elfishy => Ekha Pratiwie

Genre : Family, friendship

Main Cast:

Jo Young Min

Jo Kwang Min

Other cast:

No Min Woo

Kang Ji Yoo a.k.a Edy Pratama (Ekha dongsaeng :p) *haha.. nebeng eksis jg*

Kim Hyo In a.k.a Reny Chibi Chan

Kim Hyo Byung a.k.a Eka Elfishy

Kim Dong Hyun

Lee Jeong Min

Shim Hyun Seong

Jenny

^^^^^

Ini FF pertamaku yg tercipta spesial buat ulang tahun  jo twins ke 17/18.

*Happy reading !!*^^^^

At School

Aku berjalan melewati koridor sekolah yang sudah ramai oleh murid-murid lain. Aku bisa merasakan beberapa pasang mata tengah memaku pandangannya padaku, namun aku tak bergeming, aku terus melangkah dengan tatapan lurus ke depan. Aku senang akhirnya bisa menemukan ruang kelasku. Hampir seminggu lamanya aku tidak menginjakkan kakiku di sekolah, dan ruang kelas inilah yang paling kurindukan.

Beberapa murid yang kukenali sebagai teman sekelasku bergantian menyapaku sebelum akhirnya aku tiba di bangku yang terletak di dekat jendela. Sesaat setelah pantatku mendarat di kursi, dua orang yang tadinya datang bersamaku juga baru saja memasuki kelas. Yang pertama kali masuk adalah sahabat karibku sekaligus rekan kerjaku. Senyum maut yang menjadi andalannya tak pernah lepas dari bibir cowok bernama No Min Woo ini. Dengan penuh percaya diri ia memamerkan deretan gigi-gigi putihnya pada setiap orang yang menyapanya. Hal tersebut tak jarang membuat murid yeoja kegirangan. Berbeda dengan namja yang tepat berjalan di belakangnya. Wajahnya yang begitu persis dengan wajahku selalu nampak dingin. Hal tersebut membuat orang lain enggan melempar senyuman padanya. Meskipun demikian, ia selalu sukses membuat dirinya menjadi pusat perhatian kemanapun ia berada hanya dengan memasang ekspresi super cool-nya itu.

Aku mengalihkan pandanganku di balik jendela. Beberapa gedung pencakar langit menghalangi sebagian paparan sinar mentari tuk menerpa wajahku. Aku bisa mendengar derap langkah kedua orang tadi mendekat di tambah dengan bunyi gesekan kaki kursi dengan lantai yang menandakan mereka sudah duduk di tempat masing-masing.

“Hei, Jo Young Min-a!” Panggil Min Woo yang duduk tepat di samping kananku.

“Setelah ini, kita menghadap wali kelas ya, kita harus meminta ujian susulan.” Ucapnya lagi sambil mengutak-atik isi tasnya.

“Ujian susulan?” Tanyaku tak mengerti.

“Kudengar mata pelajaran Sejarah dan Sastra ujian tengah semesternya dimajukan.” Jawab Min Woo.

Eo, Keure.” Jawabku pasrah.

Di sudut mataku menangkap bayangan Jo Kwang Min, saudara kembarku, lebih tepatnya adik kembarku. Wajahnya tak berubah sejak bangun tidur tadi. Masih dingin. Mungkin karena perdebatan semalam yang nampaknya masih menyisakan kekesalan. Sedangkan Min Woo asyik berbincang-bincang dengan salah satu teman sekelas kami. Ingatanku kembali menyisir peristiwa semalam. Perdebatan antara dua bersaudara bukan hal yang tidak wajar, akan ada saat hal itu akan terjadi. Seperti yang kualami saat ini dengan orang yang paling dekat denganku lebih dari siapapun.

Annyeong haseyo!” Sapa seseorang yang baru saja muncul di balik daun pintu kelas.

Terdengar beberapa murid lain membalas sapaannya termasuk Min Woo. Matanya hampir tak terlihat sebab senyumnya yang lebar.

“Kalian masuk juga akhirnya.” Katanya lagi setelah duduk di kursinya yang berada di depanku.

“Kamu sendiri? Bukannya beberapa hari sebelum kami izin kamu sudah izin duluan.” Ucap Min Woo.

“Aku sudah dua hari masuk. Rasanya sepi tidak ada kalian.” Ucap gadis yang duduk di hadapanku itu.

“Sudah ikut ujian Sejarah dan Sastra belum?” Tanya Min Woo lagi.

Kedua orang ini memang sangat akrab. Min Woo yang dikenal supel dan easy going ini memang tidak sulit menjalin keakraban dengannya apalagi dengan Kim Hyo In yang juga memiliki sifat yang tak jauh beda dengan Min Woo.

Ani, kalian?” Tanyanya sambil menatap kami satu per satu yang tatapannya akhirnya terhenti tepat di wajahku seakan menuntut jawaban yang ia nantikan keluar dari mulutku.

Nado.” Jawabku akhirnya.

“Nanti kita akan menghadap ke wali kelas. Mau ikut?” Ujar Min Woo.

Hyo In mengangguk antusias. Aku kembali menekuni pemandangan mentari pagi hari di balik jendela di samping kiriku. Bisa kulihat bayangan Kwang Min di cermin yang mulai sibuk membolak-balikkan halaman sebuah buku yang ada di tangannya. Itu pasti komik seri terbaru favoritnya.

Seminggu ini aku akan sangat sibuk dengan tugas sekolah yang tertunda, plus ujian susulan yang siap turut serta menyita waktu libur kerjaku. Seminggu ke depan, aku dan rekan grup boyband yang belum genap setahun debut itu akan mengosongkan jadwal manggung. Hanya ada beberapa kali latihan untuk mempersiapkan konser music di Singapore dua minggu ke depan. Tidak jauh berbeda dengan grup girlband yang digawangi Hyo In dan rekan-rekannya yang lain, mereka sedang fakum sebab mereka dalam proses mempersiapkan album terbaru mereka dua bulan yang akan datang.

“Young Min-a, ada apa dengan Kwang Min? Mukanya sangar sekali.” Komentar Hyo In yang tengah berjalan beriringan denganku menuju perpustakaan.

Kebersamaan kami sukses membuat kami menjadi pusat perhatian murid-murid lain di sepanjang perjalanan menuju perpustakaan. Ya, meski jumlahnya tidak seberapa dibanding ketika kami baru saja debut dan menjadi perbincangan di sekolah.

Molla.” Jawabku singkat, berusaha membuat wajahku seramah mungkin.

“Kalian bertengkar ya?” Tanya Hyo In setengah berbisik.

Aniyo.”  Elakku.

Namun kurasa jawabanku percuma saja. Hyo In paling bisa membaca situasi. Itu sebabnya ia sangat bisa diandalkan sebagai teman. Aku dan kedua rekanku Min Woo dan Kwang Min belum lama ini akrab dengan sosok gadis bernama lengkap Kim Hyo In ini. Kami saling mengenal saat kami menjadi siswa baru di sekolah setahun lalu. Saat itu kami berempat masih menjadi murid trainee di perusahaan agensi yang berbeda. Berbeda dengan siswa lain yang telah memulai debut, Hyo In termasuk idol yang  ramah dan baik hati.

“Lalu, kemana Kwang Min dan Min Woo sekarang?” Tanyanya lagi.

“Tadi aku lihat mereka pergi bersama. Mungkin ke club basket.” Jawabku.

Eo.”

Dalam hal ini, aku iri pada Kwang Min. Bagaimana tidak, Yeoja cantik di sebelahku begitu perhatian padanya, lebih dari perhatiannya kepadaku atau pun Min Woo. Bukan hal yang aneh jika aku berkesimpulan jika ada yang tidak biasa pada hubungan mereka. Sayang, dasar Kwang Min yang cuek atau terlalu polos, sampai-sampai perhatian lebih Hyo In itu hanya dianggapnya sebagai hal yang wajar kepada seorang teman. Bad Boy.

At Starship Office

Rasa lelah merambah sekujur tubuhku. Latihan hari ini cukup melelahkan sebab sebelum ke kantor, energiku sudah cukup terkuras dengan mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Seperti biasa, setelah latihan, kami berkumpul untuk makan bersama atau sekadar bercengkrama sebelum kembali ke dorm, tapi kali ini kami bisa pulang ke rumah masing-masing.

Tak dapat dipungkiri, Kim Dong Hyun, leader kami memang sosok yang selalu bisa menjadi panutan. Namja yang satu ini selalu bisa membuat suasana menjadi menyenangkan, terutama jika dikolaborasikan dengan Lee Jeong Min. Lee Jeong Min Hyeong merupakan member yang baru-baru ini merayakan hari kelulusan SMA-nya menyusul Shim Hyun Seong setahun lalu. Itu berarti member pelajar hanya tersisa aku, Kwang Min dan Min Woo. Banyak yang bilang, kalau aku dan Hyun Seong Hyeong adalah member yang paling payah dalam hal lelucon dengan kata lain kami tidak bisa melucu seperti halnya member lain. Kuakui memang aku tidak mempunyai bakat bertingkah dan berucap sesuatu yang bisa menggelitik orang lain. Berbeda dengan Jeong Min Hyeong dan Dong Hyun Hyeong.

Pikiranku kembali menerawang. Tak pada tempatnya. Meskipun di hadapanku kini ada member lain yang tengah berbincang-bincang entah apa yang mereka bahas hanya bagai angin lalu di telingaku. Aku melirik sedikit ke arah Kwang Min. Wajah dinginnya mulai pudar, namun bisa kujamin setelah angkat kaki dari practise room ini, dia akan kembali sedingin sebelum ke kantor tadi. Aku masih bersyukur kali ini, selain Min Woo, tidak ada yang menyadari ketidakharmonisan hubungan kami. Setidaknya untuk hari ini.

at Home

Setelah makan malam bersama, aku lalu berlalu ke kamar. Kwang Min yang tahu aku berada di kamar, nampak enggan masuk di kamar. Aku lalu merebahkan tubuhku. Senang rasanya bisa berbaring di kamar sendiri, lebih tepatnya kamar kami. Baru beberapa detik kupejamkan mata, tiba-tiba seseorang terdengar memasuki kamar. Derap langkah kakinya sangat kukenali. Kwang Min akhirnya memasuki kamar. Tapi ada seseorang lagi yang datang. aku lalu membuka mata. Terlihat abeoji dan Kwang Min sudah berdiri di hadapanku.

“Maaf mengganggu waktu istirahat kalian.” Kata abeoji lalu duduk di sampingku.

“Kalian baik-baik saja kan?” Tanya abeoji.

Di hadapan  member lain, teman-teman sekolah dan staf kantor, mungkin mereka bisa saja tidak menyadari hubungan yang kurang baik antara aku dan Kwang Min, namun di hadapan keluargaku, kami tidak bisa menutupinya. Sudah kuduga, abeoji akan menyadarinya.

“Sudah kubilang ini hanya pertengkaran kecil, Abeoji!” Jawab Kwang Min duduk di ranjangnya yang bersebelahan dengan ranjangku.

Abeoji melirik ke arahku, seakan meminta tanggapanku.

Ne, hanya pertengkaran kecil.” Jawabku, pada abeoji.

Abeoji harap memang demikian. Tapi, apapun masalahnya, kalian harus ingat, terlepas bahwa kalian adalah seorang idol, kalian juga adalah saudara, kalian bersaudara kembar. Mulai sebelum lahir, hingga saat ini kalian sudah menjadi idol, tak akan ada yang merubah kenyataan itu. Maka dari itu, kalian harus saling menjaga,.” Jelas Abeoji lalu beranjak dari kamar.

Aku masih mematung dengan posisiku. Sedangkan Kwang Min berlagak seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ia lalu menarik selimutnya dan memejamkan mata. Sikapnya itu membuatku muak. Kemudian kulakukan hal yang sama. Kutarik selimutku lalu mematikan lampu kamar.

Mataku terpejam, namun tak terlelap. Pikiranku masih menerawang jauh, memikirkan perkataan Abeoji. Meski saudara kembar, kami tetaplah dua pribadi yang berbeda dengan isi kepala yang berbeda-beda. Ada kalanya kami tidak merasa cocok satu sama lain, maka pertengkaran pun tidak dapat dihindari. Meskipun demikian, hal tersebut tidak akan bertahan lama. Hanya bertahan paling lambat dua hari, kami pun langsung berdamai.

Hari ini tepat dihari ketiga sejak hari dimana aku dan Kwang Min berselisih. Pertengkaran tersebut bermula dari ketidaknyamanan Kwang Min yang selalu dibanding-bandingkan denganku. Aku pun sebenarnya tidak nyaman diperlakukan demikian. Itulah sebabnya semenjak debut, pihak perusahaan agensi kami meminta agar kami berpenampilan berbeda satu sama lain agar fans kami kelak tidak sulit membedakan kami. Sejak saat itu, kami sibuk meninggalkan jati diri kami masing-masing sebagai si kembar yang mirip dan kompak, kemudian membentuk karakater yang semakin bertolak belakang.

Ahhh… ! Aku tidak peduli. Diapun juga tidak peduli. Batinku seraya menatap ke arah Kwang Min yang tak tampak jelas karena ditelan kegelapan.

At Schoo l-> Starship Office

Di sekolah, kami sibuk mengikuti ujian tengah semester. Syukurlah, meski ada beberapa ujian yang tertuda dan kami harus mengikuti ujian susulan, namun pada ujian lain, kami bisa turut serta mengikuti jadwal yang seharusnya.

Sepulang sekolah, kami langsung menuju kantor. Hari ini seperti bisasa, hanya ada jadwal latihan. Setelah latihan. Sang leader, Dong Hyun meminta kami untuk tidak pulang dulu. Kami masih di practice room sambil menikmati camilan. Tiba-tiba suasana menjadi tegang ketika Dong Hyun-Hyeong mulai angkat bicara mengenai aku dan Kwang Min.

“Itu hanya pertengkaran kecil, Hyeong.” Ucap Kwang Min.

“Apa sebenarnya masalah kalian?” Tanya Dong Hyun Hyeong lagi.

Kami terdiam. Tak satupun dari kami angkat bicara. Member lain menatap kami dengan penuh tanya. Namun entah mengapa, aku tak dapat memberi mereka jawaban sepatah katapun. Hanya kami yang tahu apa yang kami rasakan, diceritakan pun orang lain mungkin tak akan mengerti

“Apapun alasan kalian, aku sangat berharap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Jangan karena hal ini kita jadi terpecah. Dan jangan sampai public tahu akan hal ini.” Tukas Dong Hyun-Hyeong.

Tiba-tiba Kwang Min berdiri lalu beranjak dari practice room.  Tidak ada yang bisa mencegatnya termasuk aku yang memilih diam hingga member lain satu per satu meninggalkan practice room. Hanya tersisa aku dan Min Woo.

Mianhaeyo, tapi aku yang mengatakannya pada Dong Hyun-Hyeong. Aku Cuma ingin kalian berdamai lagi. Aku tidak ada maksud apa-apa.” Ujar Min Woo meyakinkanku.

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi pengakuan sahabat kentalku itu. Aku bisa mengerti apa yang dirasakannya. Aku hanya agak merasa terusik dengan situasi yang membelitku. Kwang Min tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berdamai denganku. Aku kesal dan kecewa.

Aku berjalan melewati koridor kantor menuju lobi. Pikiranku masih berkutat pada masalah yang terus saja menggangguku. Saat melewati vocal room, tampak seseorang yang sedang kerepotan memunguti benda-benda yang berhamburan di lantai.

Semakin mendekat, aku semakin bisa mengenali orang itu. Dia salah satu murid trainee di perusahaan ini. Sudah hampir setahun dia menjalani pelatihan di sini. Namanya mirip dengan nama Hyo In, seperti saudara kembar namun mereka bukanlah kembar layaknya aku. Mereka berasal dari latar belakang berbeda dan tentunya mereka tidak mirip.

“Kim Hyo Byung-Ssi!” Sapaku padanya.

Eo, ­sunbaenim.” Jawabnya agak sedikit terkejut.

Belum sempat ia berkata lagi, aku lalu mengambil posisi jongkok di hadapannya untuk membantunya membereskan barang-barangnya yang sepertinya tak sengaja jatuh dari tasnya.

Mianhamnida merepotkanmu, sunbae-nim.” Ucapnya malu-malu.

“Jangan memanggilku sunbae-nim, panggil saja namaku.”

“Mana boleh seperti itu, Anda kan seniorku. Lagipula, aku setahun lebih muda daripada Anda.”

Kuere. Terserah padamu saja.”

Ia lalu tersenyum padaku. Seketika mood-ku berubah. Pikiranku blank. Tak satupun kata yang mampu kuucap. Kami hanya terdiam sambil terus memunguti satu per satu benda-benda yang ternyata adalah isi tasnya.

“Kamu suka Pikachu?” Tanyaku saat menemukan sebuah gantungan kunci dengan bandul miniatur Pikachu.

“Itu milik dongsaeng-ku. Dia suka Pikachu.” Jawabnya.

Naedongsaeng, maksudku Jo Kwang Min juga suka Pikachu. Kalau mereka bertemu pasti seru.”

Ia tak memberi respon, hanya wajahnya yang nampak berubah. Seperti sedang sedih.

“Sayangnya mereka tidak akan mungkin bertemu.” Ucap Hyo Byung, akhirnya.

Waeyo?”

“Adikku sudah meninggal setahun lalu.”

“Oh, mianhae, aku tidak bermaksud…” ucapku terpotong.

Gweunchana.” Ucapnya.

“Gantungannya untuk sunbae-nim saja, atau mungkin berikan kepada Jo Kwang Min sunbae-nim.”

“Tapi itu kan milik adikmu?”

“Tidak ada gunanya aku menyimpannya. Hanya akan mengingatkanku padanya. Andai aku masih diberi kesempatan sekali lagi menjadi kakak, aku ingin menjadi pelindung dan panutannya.” Dia tersenyum, lebih tepatnya dia berusaha untuk tersenyum.

Mianhae, aku…” ucapku terpotong.

“Aku membuat subae-nim merasa bersalah lagi ya? Jeongmal mianhamnida!” Katanya lalu menyeka air matanya yang hampir menetes.

Yeoja yang selalu ramah dan ceria itu ternyata menyimpan kepahitan yang dalam. Aku ragu jika bisa setegar dia.

“Hyo Byung, fighting!” Ucapku lalu melempar senyuman terbaik yang selama beberapa hari ini tak pernah menghiasi wajahku.

Ghamsahamnida sunbae-nim.”

at Home

Sesampainya di rumah. Tak ada tanda-tanda keberadaan Kwang Min di rumah. Entah kemana lagi ia pergi. Tak seperti biasanya, kali ini kepergiannya membuatku agak gelisah. Sial! Untuk apa aku merasa gelisah seperti ini? Toh biasanya saat dia tak bersamaku aku tidak masalah.

Hyeong! Kwang Min Hyeong belum pulang?” Tanya Hyun Min, adik sulung kami.

Molla, aku tidak pulang bersamanya.” Jawabku.

at School

Keesokan harinya, seperti hari-hari kemarin, dalam diam kami bersama-sama berangkat ke sekolah. dalam perjalanan, Kwang Min sesekali menguap karena mengantuk. Eomma bilang dia pulang pukul sepuluh malam. Aku sudah terkapar tidak sadar pada jam itu.

“Semalam kemana saja?” Akhirnya kuberanikan untuk bertanya.

“Ke tempat Ji Yoo.” Jawabnya santai.

Kang Ji Yoo adalah salah satu murid trainee di perusahaan kami. Dia memulai trainee dua tahun sebelum akhirnya aku dan Kwang Min menginjakkan kaki di Starship Ent. Kebetulan, dia juga adalah teman sekolah kami meski berasal dari kelas yang berbeda. Keakraban mulai terjalin hingga kini. Kwang Min lah yang paling dekat dengannya, mereka juga ikut club basket sekolah bersama. Namun, hingga saat ini Ji Yoo belum debut dan masih terus menjalani trainee.

Pagi ini cuaca masih sesejuk hari kemarin. Namun ada yang berbeda dengan atmosfer di sekolah yang tengah ‘panas’. Sejak memasuki pekarangan sekolah, terlihat beberapa pasang mata mengarah ke kami. Biasanya memang demikian, tapi kali ini berbeda. Tatapan mereka berbeda dengan biasanya. Saat melewati koridor sekolah, seseorang dengan terpogoh-pogoh menuju ke arah kami.

Waeyo, Hyo In?” Tanyaku pada Hyo In yang masih terengah-engah.

“Kalian belum tahu?” Tanyanya.

Mwo?” Tanyaku penasaran.

“Lihat ini!”

Hyo In menjulurkan ponselnya yang pada layarnya telah terpampang sebuah foto. Di dalam foto itu, tertangkap beberapa orang yang berada di dalam sebuah bar. Di antara orang-orang bar itu, aku mengenali sesosok wajah yang begitu mirip denganku. Itu Kwang Min! sontak pandanganku lalu berpaling ke Kwang Min yang berdiri di sebelahku. Dia masih serius menatap foto itu.

Mwoya?” Ucap Kwang Min akhirnya.

“Semestinya kami yang bertanya seperti itu.” komentarku.

Entah sejak kapan Min Woo datang, ia tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Kwang Min dan seolah tahu apa yang telah terjadi.

“Foto ini sudah menyebar ke ponsel murid-murid lain.” Kata Hyo In cemas.

“Siapa yang mengutip dan menyebarkan foto ini?” Min Woo terlihat sedang berpikir.

“Sepertinya aku tahu siapa orangnya.” Kata Kwang Min

Kwang Min mulai melangkahkan kakinya dan beranjak pergi namun kucegat. Aku memegang erat-erat lengannya. Aku belum bisa membiarkannya pergi begitu saja sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalaku menyangkut foto itu.

“Untuk apa kamu ke tempat seperti itu?” Tanyaku dingin.

“Aku ingin menemui seseorang.” Jawabnya tak kalah dingin.

“Apa kamu tahu, tempat seperti apa itu?” Tanyaku lagi, emosiku mulai tergugah.

Ara. Jangan-jangan kamu berpikir yang tidak-tidak. Kamu tidak percaya padaku?”

Kali ini Kwang Min menatapku tajam. Jarak kami sekarang hanya beberapa senti. Cengkramanku di lengannya semakin kuat.

“Aku tidak melakukan apapun di sana, dan tidak menyentuh apapun.” Ungkap Kwang Min.

“Tapi apa mereka percaya?” Tanyaku dengan nada suara yang mulai meninggi.

“Apa kau tidak percaya?” Tanyanya juga dengan  membentak.

Aku tidak merespon. Ia tersenyum sinis lalu mengibaskan tangannya tuk melepas cengkramanku. Ia pun pergi, entah kemana.

“Bagaimana kalau foto ini sampai ke kantor, apa yang harus kita katakan pada Dong Hyun Hyeong, Jenny, dan menejer Park juga Presdir.” Kata Min Woo.

“Teman-teman, sebentar lagi masuk, kalian ke kelas duluan, aku akan mencari Kwang Min.”

“Tapi kemana?” Tanya Hyo In.

“Aku ikut!” Seru Min Woo.

Andwe.  Kalian tidak perlu cemas, semuanya akan baik-baik saja. Pergilah!” Ucapku lalu berlalu begitu saja.

Diamana aku harus mencarinya? Aku lalu merogoh tas ranselku untuk mencari ponsel. Tiba-tiba sebuah benda yang ikut terbawa saat aku mengambil ponsel terjatuh di lantai. Gantungan Pikachu yang diberikan oleh Hyo Byung. Kata-kata Hyo Byung waktu itu sekelebat terngiang bagai berbisik di telingaku. “Aku juga ingin melindunginya.” Lirihku hampir tak terdengar. Segera kumasukkan kembali gantungan dengan bandul warna kuning itu ke dalam tas. Lalu mulai menekan speed dial nomor satu untuk panggilan yang ditujukan pada Kwang Min.

“Tidak aktif, sial!”

Tiba-tiba percakapan singkat kami di mobil saat perjalanan menuju sekolah tadi terlintas di ingatanku. Kang Ji Yoo? Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Ji Yoo? Tapi kenapa? Tak mau buang-buang waktu, aku segera menuju ke tempat yang langsung terbayang di kepalaku saat mengingat nama Ji Yoo. Gedung olah raga.

Tepat seperti dugaanku. Kwang Min berada di gedung olah raga bersama Ji Yoo. Perlahan kumelangkahkan kakiku mendekati mereka, namun tiba-tiba terhenti. Aku bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka. Mereka belum menyadari kehadiranku. Aku memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka di balik tumpukan matras.

Waeyo?” Suaranya mirip dengan suaraku. Suara Kwang Min.

“Aku membencimu, aku membenci kalian karena kalian memuakkan!” suara yang satunya lagi pasti suara Ji Yoo.

Aku tercengang mendengar pernyataan Ji Yoo. Wae? Apa yang membuatnya begitu membenci kami? Aku mengintip untuk melihat Kwang Min. Aku yakin, ia sama terkejutnya sepertiku, bahkan lebih.

“Selama empat tahun aku di trainee, mengapa kalian yang baru dua tahun bahkan ada yang setahun menjalani trainee dengan mudahnya langsung debut. Aku iri pada kalian.”

Kwang Min masih setia dengan diamnya. Ia seakan tahu, Ji Yoo tak menginginkan komentarnya akan apa yang baru saja dikatakannya. Akupun dengan saksama menyimak penuturan Ji Yoo.

“Kalian selangkah lebih di depan dariku. Padahal kalian yang selalu meyakinkanku kalau kita akan melangkah bersama. Setiap hari aku latihan dengan sungguh-sungguh, meski aku mulai merasa lelah dan jenuh tapi sekuat tenaga aku tepis semua itu, berharap mereka mengusulkan agar aku bisa debut, tapi ternyata tidak.” Tambahnya lagi.

“Hanya itu alasanmu? Kamu tidak ingat bagaimana perjuangan Dong Hyun Hyeong agar bisa debut? Apa yang kamu alami belum seberapa.” Ucap Kwang Min akhirnya.

“Kim Dong Hyun sunbae-nim? Aku tak sekuat dia. Apa kau lupa, aku rapuh, bahkan sangat rapuh. Hidup sebatang kara di dunia ini sejak umur lima tahun. Saat-saat dimana kalian bermain dan tertawa dengan orangtua dan saudara-saudara kalian, sementara aku, bocah lima tahun harus berjuang sendiri demi tetap hidup.”

Dari kejauhan, aku bisa melihat cucuran air mata Ji Yoo membasahi pipinya. Tubuh tegapnya bergetar hebat menahan tangis. Aku sendiri tak mampu menahan air mataku yang mulai mengalir.

“Foto murahan seperti itu saja bisa membuatmu kalap, bahkan buta mendadak.” Kata Ji Yoo lalu tersenyum sinis.

Mwo?”

“Sebenci apapun aku terhadap kalian, aku tidak aka melakukan hal serendah itu. Menghancurkan kalian seperti itu sama saja dengan pengecut.”

Mereka tak berbicara sepatah kata pun. Kwang Min nampang kebingungan. Ia tak tahu harus memercayai ucapan Ji Yoo atau tidak, sementara Ji Yoo sendiri nampak larut dalam perasaannya. Air matanya tak henti-hentinya bercucuran. Jika aku di posisi Kwang Min, aku juga akan melakukan hal yang sama dengannya. Sekalipun Ji Yoo benar-benar pelakunya, namun ia punya alasan untuk itu. Alasan yang sepihak namun aku bisa mengerti, sangat bisa kumengerti.

Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Entah bagaimana dampak penyebaran foto itu tapi aku kami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Hal yang bisa dilakukan jika seorang idol terlibat skandal yang tak mampu disangkalnya hanyalah diam agar tak memicu masalah lain. Ponselku terus bergetar di saku celana. Bisa kutebak siapa yang sedari tadi menghubungiku. Jenny atau menejer Park.

Yoboseyo!” Jawabku.

“Jo Young Min-ah, odiga?” Tanya Jenny dari ujung telepon.

“Masih di sekolah.” jawabku datar.

“Kalian segera ke kantor, menejer Park sudah mendengar berita tentang Kwang Min …” Jenny mulai mengomel.

Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Suara cempreng Jenny sangat menggangguku. Aku heran, mengapa menejer Park menobatkan dia sebagai asistennya. Selain cerewet, dia tidak punya keahlian lain. Meskipun demikian, Jenny sudah sangat dekat dengan kami. Dia sangat mengenal dan mengerti kami lebih dari siapapun di kantor. Jenny adalah eomma kami di kantor.

Jenny masih terus mengomel di telepon. Tiba-tiba seuatu mengalihkan perhatianku. Terdengar suara lain yang asalnya tak jauh dari tempatku berdiri. Suara beberapa orang yang sedang mengobrol.

“Aku yakin, pasti saat ini Kwang Min sedang stress.” Ucap seseorang.

Kalimat yang kudengar samar-samar itu sukses membuatku tergerak untuk mendengar lebih banyak lagi.

“Jenny, sudah dulu ya, nanti kami ke kantor.” Bisikku pada Jenny lalu memutuskan sambungan telepon.

Lagi-lagi, aku melancarkan aksi menguping. Aku mengintip untuk melihat orang-orang itu. Ternyata mereka adalah teman-teman klub basket Kwang Min. Aku tidak begitu mengenali mereka tapi mereka sering terlihat bersama Kwang Min dan Ji Yoo di lapangan.

“Bagaimana kalau kita ketahuan bahwa yang menjebak Kwang Min ke bar itu adalah kita?” Tanya salah satu dari mereka.

“Jangan berisik! Kita tidak akan ketahuan kalau kamu menjaga mulutmu itu.” Ucap yang satunya lagi.

Aku mengepal keras tenganku. Darahku seakan mendidih mendengar pernyataan mereka. Emosi menguasai jiwaku. Tanpa banyak berpikir. Kulayangkan bogem mentah ke wajah mereka berdua dengan sekuat tenaga hingga membuat mereka terpental ke tanah. Sedikit lega rasanya setelah membuat salah satu dari mereka mimisan.

Mwoya?” Bentak siswa yang mimisan itu.

“Jadi kalian yang menjebak dongsaeng-ku, haahh?” Suaraku tak kalah menggelegar.

“Sialan!” Siswa yang mimisan itu lalu meraih kerah seragamku lalu bugggg!!

Aku terdorong beberapa langkah ke belakang. Bisa kurasakan pipiku kesakitan setelah mendapat serangan balasan dari namja bertubuh tegap yang kini berdiri dihadapanku. Sial, bibirku berdarah!

Aku memegangi pipiku dan ujung bibirku yang terasa berdenyut kesakitan lalu berusaha menyeimbangkan tubuh untuk memberi serangan balik, namun rupanya dia selangkah lebih gesit. Ia lagi-lagi mengangkat kera bajuku dan bersiap mendaratkan tinjunya lagi di tempat yang sama. Bugggg !!

Siswa yang mimisan itu terduduk di tanah sambil mengerang kesakitan. Rupanya Kwang Min datang dan langsung memukulinya.

“Ada apa ini Hyeong?” Tanya Kwang Min nampak cemas.

“Mereka pelakunya, mereka yang menjebakmu malam itu.” Jawabku dengan berapi-api.

Mwo?” Kwang Min terkejut nampak tak percaya.

Bukan hal yang tidak wajar jika Kwang Min meragukan kenyataan itu sebab kedua tersangka ini adalah rekan satu timnya dalam club basket sekolah.

Jinja?” Tanya Kwang Min terhadap kedua orang itu.

Aku, Kwang Min, Ji Yoo dan kedua siswa tadi kini yang tak kukenali namanya sedang berada di gedung olah raga. Tempat yang sama saat Kwang Min dan Ji Yoo tengah berdebat tadi. Seharian ini, gedung olah raga sekolah seakan menjadi saksi bisu terungkapnya jawaban atas masalah yang tengah hangat-hangatnya beredar di sekolah bahkan sudah merambah ke tempat lain. Gedung olah raga siang itu sedang tidak digunakan. Biasanya hanya digunakan saat praktik olah raga indoor.

Alasan teman-teman Kwang Min ini memutuskan untuk menjebak Kwang Min alasannya karena anggota tim basket lainnya merasa kesal pada Kwang Min karena ia tidak focus lagi dengan tim basket. Ia jarang latihan dan sering mengabaikan perintah kapten tim. Aku baru ingat, kalau yang mendapat pukulan paling keras dariku hingga mimisan itu adalah kapten basket.

“Aku mengerti kemarahan kalian, tapi apa kalian tahu, perbuatan yang kalian lakukan bisa berakibat sangat buruk bukan hanya padaku tapi juga Hyeong-ku, No Min Woo dan pihak lain di menejemen kami.” Ucap Kwang Min pada kedua temannya.

Otakku sibuk me-repeat perkataan Kwang Min tadi yang menyebutku dengan ‘Hyeong-ku’. Tapi apa yang salah, memang kenyataannya demikian. Aku adalah Hyeongnim-nya. Senyum tipis tergambar di wajahku. Bisa kurasakan sakit di ujung bibirku yang terluka. Masih ada berkas-berkas darah di sekitarnya.

Arasso. Aku menyesal melakukannya. Tapi aku tidak akan meminta maaf padamu.” Timpal sang kapten basket yang duduk berhadapan dengan Kwang Min.

Kwang Min tersenyum kecut “Kau masih keras kepala.”

Kapten basket itu lalu berdiri seraya tertawa sinis “Ya, itulah aku.”

Sang Kapten basket melangkah meninggalkan gedung olah raga, tepat dibelakangnya siswa yang satunya lagi nampak setia mengekor kaptennya.

“Aku keluar dari club basket!” Ujar Kwang Min setengah teriak.

Keluar? Apa dia yakin? Aku mengenalnya lebih dari siapapun. Selain Pikachu, dance dan music rapp, basket adalah salah satu yang dicintainya.

Kapten basket tak merepon apapun, hanya tangannya yang diangkat lalu mengacungkan jempolnya, pertanda bahwa ia setuju.

“Aku rasa semuanya sudah jelas. Jadi sebaiknya aku kembali ke kelas. Karena masalah ini, aku jadi membolos.” Ucap Ji Yoo beberapa saat setelah bayangan kedua teman Kwangmin menghilang dibalik pintu GOR.

Jeongmal mianhae.” Ucap Kwang Min merasa bersalah.

Gwenchanayo. Melihatmu dengan wajah memelas begitu jadi kelihatan tidak keren.” Ji Yoo tertawa.

Ji Yoo kemudian berlalu keluar dari gedung olah raga. Lega rasanya setelah mengetahui kebenarannya. Lebih dari itu, ada sesuatu yang berharga yang kami dapatkan hari ini. Meskipun demikian, masalah belum tuntas sepenuhnya. Masih ada yang harus dihadapi setelah ini. Bisa kubayangkan wajah Jenny dan menejer Park sesampainya kami ke kantor nantinya.

“Kamu yakin ingin keluar dari tim basket?” Tanyaku masih penasaran.

“Karir, basket, dan sekolah. Aku tidak bisa melakukannya semua sekaligus. Harus ada yang dilepaskan.” Jawabnya.

Benarkah namja yang baru saja bicara itu adalah Kwang Min adik kembarku? Ucapannya barusan membuatku takjub dan sukses membuatku tersenyum bangga. Hari ini, dia selangkah menjadi semakin dewasa.

Hyeong bibirmu berdarah.” Ucapnya lalu menyeka darah segar yang masih tersisa di sekitar bibirku.

“Oh ya, tadi Jenny menelpon … “ ucapku terpotong.

“Ayo kita ke UKS.” Kwang Min menarik tanganku tiba-tiba, aku menurut saja.

Menit kemudian kami sudah berada di UKS. Dengan hati-hati Kwang Min menempelkan plaster luka pada bibirku.

“Kalian bolos pasti karena berkelahi kan?” Tanya petugas UKS dengan wajah sok detektif.

“Hari ini aku sudah banyak masalah, jangan menambah-nambah masalahku dengan bertanya yang macam-macam.” Jawab Kwang Min.

Petugas UKS yang adalah seorang noona itu lalu mendengus kesal. Sebelum debut, Kwang Min yang aktif dalam club basket sudah sering bolak balik ruang UKS. Aku juga mengenal petugas UKS hanya karena berkali-kali membawa Kwang Min ke UKS. Tapi kali ini sebaliknya.

“Ayo pergi!” Ajakku.

Shiero. Aku tidak mau ke kantor.” Tolak Kwang Min.

“Bukan ke kantor.”

“Lalu?”

at Playground

Suasana taman hiburan cukup ramai meski di siang hari. Hari ini bukan hari libur namun pengunjung tetap banyak. Kwang Min berjalan beriringan denganku memasuki kawasan taman hiburan itu. Topi dan kacamatanya membuatnya tidak dikenali oleh pengunjung lain. Aku kebagian wig yang menurutku jelek dan norak. Wig yang modelnya gondrong belah dua persis rambut tokoh kartun James tim rocket dalam serial animasi Pokemon yang sering ditontong Kwang Min itu sukses membuatku tidak mirip dengan Jo Young Min yang selama ini muncul di TV.  “Karismaku jadi luntur karena wig sialan ini.” Gumamku kesal. Kwang Min tertawa geli mendengarku tak henti-henti mengutuk wig yang sudah bertengger dikepalaku.

Kami menatap takjub sekeliling. Kami sejauh mata memandang, yang terlihat hanya kerumunan manusia dan berbagai wahana yang membuat kami tak sabar mencobanya. Sejak kecil, kami suka mengunjungi tempat-tempat hiburan seperti ini saat kami merasa sedih ataupun stress. Tempat favorite kami di Lotte World. Tapi sayang, kali ini kami memilih taman hiburan yang lebih dekat dengan sekolah. Lotte World terlalu ramai, walau sudah menyamar pun kemungkinan masih ada yang bisa mengenali kami.

“Wahana yang mana dulu ya?” Tanyaku bingung.

roler coaster!” Seru Kwang Min.

Taman hiburan memang tempat yang ajaib. Saat memasukinya, semua masalah dan beban serasa terangkat. Tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kami keluar dari kawasan ini, di pikiran kami hanya ada kata have fun.

 

_THE END_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: