FF Janus (We Are The Twins) PART 2

Setelah mengetahui kabar kepindahannya dari Hyo Byung, Youngmin langsung pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, rupanya Ayahnya sudah berkemas-kemas, Youngmin pun sempat bersitegang dengan Ayahnya yang memintanya untuk segera berkemas dan ikut terbang bersamanya ke Jepang siang itu juga.

“Ayah sudah gila ya? Mana mungkin aku bisa pergi seperti ini.”

“Apanya yang tidak bisa? Barang-barangmu sudah dikemas, kamu tinggal ganti seragammu itu lalu kita pergi ke bandara.”

“Lalu bagaimana dengan Ibu dan Kwangmin? Aku tidak mau meninggalkan mereka.”

Ayah meninggalkan Youngmin begitu saja. Sementara Youngmin yang geram tak mampu berbuat apa-apa lagi selain mengikuti kemauan Ayahnya.

Youngmin berjalan memasuki kamarnya. Tak satupun barang-barangnya yang terlihat berada di kamar itu selain sepasang baju dan celana yang sudah disiapkan Ayahnya untuk dikenakannya. Youngmin melangkah pelan, matanya memandang ke segala sisi kamar. Di sudut kamar, Youngmin duduk seraya memeluk kedua kakinya. Kakinya bergetar, air matanya pun tumpah. Luka yang dirasakannya semakin perih mencabik-cabik hatinya. Youngmin terisak, bibirnya terus saja menggumamkan nama Kwangmin dan Ibunya.

“hyoung!” Tiba-tiba terdengar suara yang mengalihkan perhatian Youngmin.

Youngmin menyeka air matanya, ia lalu berdiri mendekat ke sumber suara. Ia membuka jendela kamarnya dan menemukan Kwangmin sedang bersembunyi dibaliknya.

“Kwangmin-ah, aku…” Ucap Youngmin terhenti.

“Aku tahu, Ayah akan membawamu ke Jepang.”

“Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mau pergi ke Jepang.” Desak Youngmin.

“Bawa aku pergi!” ucap Youngmin lagi.

“Maksudnya?” tanya Kwangmin.

“Kita kabur saja!”

“Jo Youngmin!” Panggil Ayah dari balik pintu kamar Youngmin untuk kesekian kalinya.

Ayah yang tidak sabar lalu mendobrak pintu kamar Youngmin yang terkunci dari dalam itu. Setelah berhasil membuka pintu kamar, sosok Youngmin sudah tidak terlihat di dalam kamar. Hal tersebut membuat Ayah makin geram. Ia lalu menelpon seseorang yang tidak lain adalah Ibu dari kedua putranya.

Sementara itu, di luar sana Youngmin dan Kwangmin terus berlari menyusuri kawasan Gangnam yang padat. Tujuan mereka yaitu sebuah stasiun kereta api yang akan membawa mereka keluar dari kota tersebut. Karena merasa lelah, Youngmin dan Kwangmin memutuskan untuk beristirahat sejenak di tepi gang yang cukup sepi.

“Lalu sampai kapan kita bersembunyi dari mereka?” tanya Kwangmin.

“Entahlah. Mungkin sampai Ayah berubah pikiran.” Jawab Youngmin.

“Ayah tidak akan berubah pikiran. Kau tahu dia kan.” Ucap Kwangmin

“Aku belum pernah membantah Ayah seperti ini sebelumnya, aku sedikit takut hyoung.” Tambah Kwangmin.

“Kamu pikir aku tidak, sebenanrnya hal yang paling aku takutkan sekarang adalah terpisah darimu. Kalau kita sampai tertangkap, Ayah tidak akan mengampuni kita, kita benar-benar akan dipisahkan.” Youngmin menunduk setitik air matanya jatuh membasahi pipinya.

Kwangmin menatap miris hyoung-nya. Hatinya terluka melihat air mata Youngmin. Ia pun segera mendekap tubuh kakak kembarnya itu.

“Tenang saja hyoung, aku tidak membiarkanmu pergi.” Ucap Kwangmin diikuti derai air matanya.

Setelah melepas rasa letih, Youngmin dan Kwangmin pun melanjutkan perjalanan mereka. Namun, tanpa mereka sadari beberapa orang tengah membuntuti mereka dari belakang. Mereka adalah orang-orang suruhan Ayah Youngmin dan Kwangmin.

Saat tiba di gang yang cukup sepi, orang-orang yang sedari tadi membuntuti Youngmin dan Kwangmin itu lalu menyergap kakak beradik itu. Youngmin dan Kwangmin yang terdesak kemudian berontak dan berusaha melepaskan diri.

Youngmin dan Kwangmin menyerah. Kekuatan mereka kalah jauh dari ketiga pria berbadan tegap itu. Perlawanan mereka pun dirasa percuma. Namun, perjuangan mereka tak berhenti hingga disitu saja. Saat Youngmin dan Kwangmin di giring ke mobil ketiga pria itu, tiba-tiba Kwangmin mengerang kesakitan pada bagian perutnya. Ketiga pria itu langsung panik. Mereka tahu persis watak bos mereka. Mereka tidak akan diampuni jika kedua putra bos mereka lecet sedikit pun, Youngmin dan Kwangmin pun memanfaatkan kelemahan ketiga pria yang tidak bisa mereka kalahakan hanya dengan kekuatan fisik itu.

Kwangmin terus saja mengerang kesakitan hingga tiba pada tahap akhir, Kwangmin berpura-pura pingsan. Ketiga pria tadi semakin kelabakan. Salah seorang dari mereka yang bertugas menjaga Youngmin teralihkan perhatiannya pada Kwangmin sehingga dengan leluasa Youngmin melarikan diri.

“Youngmin melarikan diri!” Seru pria yang kecolongan itu.

Kedua rekannya yang sibuk mengurusi Kwangmin pun ikut terkejut. Dua diantara ketiga pria itu lalu bergegas mengejar Youngmin, sementara seorang lagi mengangkat tubuh Kwangmin ke dalam mobil dan membaringkannya di jok belakang.

“Ajhussi, aku haus.” Ucap Kwangmin yang sudah sadarkan diri.

“Oh, tunggu sebentar!” Timpal pria itu kemudian segera mencari-cari sesuatu di jok mobil depan.

Kwangmin memanfaatkan situasi tersebut. Dengan gesit, Kwangmin keluar dari mobil dan bersembunyi di balik bangunan sebuah minimarket.

Sementara itu, salah seorang dari pria yang tadi mengejar Youngmin berjalan terpogoh-pogoh menuju mobil. Kwangmin yang penasaran memutuskan untuk mengintip gerak-gerik mereka. Tak beberapa lama kemudian, sebuah sekerumunan orang datang mendekat kea rah dua pria tadi. Dari balik kerumunan itu seorang pria lainnya tengah menggendong tubuh seseorang yang terlihat bersimbah darah. Betapa terkejutnya Kwangmin setelah sadar bahwa orang yang bersimbah darah itu adalah Youngmin. Seluruh tubuhnya langsung lemas. Tanpa berpikir panjang, Kwangmin pun keluar dari tempat persembunyiannya menuju ke kerumunan itu.

“hyoung!” Tangis Kwangmin langsung meledak setelah tiba tepat di dekat tubuh Youngmin yang sudah tidak sadarkan diri.

“Dia tertabrak mobil. Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit.” Ucap salah seorang pria tadi.

Di dalam perjalanan, Kwangmin yang terisak tak hentinya-hentinya mengoyang-goyangkan tubuh Youngmin berharap Youngmin membuka matanya. Sesekali ia memeluk Youngmin, hingga baju yang dikenakan Kwangmin ikut berlumuran darah.

Sesampainya di rumah sakit, Youngmin langsung dibawa ke UGD. Sementara Kwangmin dan ketiga pria tadi hanya diperbolehkan menunggu di ruang tunggu. Sekitar lima menit kemudian, Ayah dan Ibu Youngmin dan Kwangmin tiba.

Ayah tampak berbincang-bincang dengan ketiga anak buahnya. Sementara Ibu menghampiri Kwangmin yang terduduk di lantai tepat di depan pintu ruang UGD sambil memeluk kedua kakinya. Air matanya tak henti-hentinya berderai. Ibu mencoba meraih pundak Kwangmin namun langsung di tepis oleh Kwangmin.

“Pergi!” Ucap Kwangmin membuat Ibunya terkejut.

“Kwangmin-ah…” ucap Ibu dengan suara bergetar karena menangis.

“Aku bilang pergi! Pergi kalian!” Teriak Kwangmin seraya mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Ayah dan Ibunya bergantian. Mata basahnya tampak memerah, terlihat beberapa berkas darah Youngmin di wajahnya.

Ibu tak mampu menyembunyikan kesedihannya, ia pun menangis sejadi-jadinya di depan Kwangmin. sementara itu, Ayah menyuruh ketiga anak buahnya untuk pergi lalu menghampiri mantan istrinya dan memapahnya untuk menjauh dan duduk di kursi yang tak jauh dari pintu ruang UGD.

Hampir setengah jam lamanya Kwangmin, Ayah dan Ibu menunggu di depan ruang UGD. Tak ada satupun terdengar suara mereka, hanya isak tangis Ibu yang memecah kesunyian. Seorang dokter akhirnya keluar dari pintu UGD tersebut. Ayah dan Ibu langsung menghampiri dokter tersebut.

Tapi saat Kwangmin akan berdiri, tiba-tiba ia merasa tubuhnya oleng. Ia tidak bisa menjaga keseimbangannya dan akhirnya ia jatuh pingsan. Namun kali ini ia tidak sedang berpura-pura pingsan.

Kwangmin perlahan membuka kedua matanya. Ia menatap disekelilingnya. Sebuah selang infuse menempel tepat d pergelangan tangan kirinya. Tepat di sebelah kirinya, dengan setia Ibu duduk sambil kedua matanya terpejam.

“Ibu.” Ucap Kwangmin pelan.

Ibu yang saat itu masih terasadar, langsung membuka kedua matanya.

“Kwangmin-ah, kamu baik-baik saja?” Tanya Ibu khawatir.

“Diamana Youngmin?” Tanya Kwangmin tanpa menjawab pertanyaan Ibu.

“Dia masih di rawat di ruang ICU. Masa kritisnya sudah lewat. Kamu tidak perlu khawatir.” Jawab Ibu.

“Aku kenapa?” tanya Kwangmin lagi.

“Kata dokter, tekanan darahmu turun. Kamu harus banyak istirahat.”

“Aku ingin melihat Youngmin, Bu!”

“Jangan sekarang. Tubuhmu masih sangat lemah. Dia akan segera sadarkan diri. Kamu istirahat saja dulu, kalau sudah cukup kuat, Ibu akan membawamu melihatnya. Lagipula ini sudah malam, besok kalau keadaanmu sudah membaik, kita akan menengok Youngmin.” Jelas Ibu.

“Baiklah. Bu, Ayah dimana?”

“Dia sedang menjaga Youngmin.”

“Tolong katakan pada Ayah agar tidak membawa pergi Youngmin, jangan pisahkan kami.” Ucap Kwangmin.

“Iya, nak.”

Kwangmin kembali terlelap. Ibu menitihkan air mata. Ia membelai lembut rambut putranya. Tak beberapa lama kemudian, Ayah memasuki kamar inap Kwangmin.

“Dia belum bangun juga?” tanya Ayah.

“Tadi dia sadar, tapi sekarang tertidur lagi.”

“Syukurlah, Kwangmin tidak apa-apa, aku hampir gila.” Ayah kemudian duduk di sofa yang dekat ranjang Kwangmin.

Ibu berjalan perlahan dan duduk tepat di sebelah mantan suaminya. Keduanya terdiam seraya menatap ke arah Kwangmin yang tengah terlelap.

“Ini semua salahku, Bu.” Ucap Ayah tiba-tiba.

“Ayah ini bicara apa, ini juga salah Ibu.” Timpal Ibu.

“Kita terlalu kejam pada mereka. Orangtua macam apa kita ini.” Tambah Ayah seraya tertunduk. Air mata yang sejak siang tadi tertahan kini tumpah. Ibu meraih tubuh Ayah dan membiarkan Ayah menumpahkan air matanya di bahunya.

“Kwangmin menitipkan pesan untukmu, dia meminta agar Ayah tidak membawa Youngmin pergi darinya.” Ucap Ibu.

Ayah tak berkata apapun. Hanya isakannya yang terdengar diantara heningnya malam.

Sebulan berlalu, Youngmin untuk pertama kalinya kembali ke sekolah setelah hampir sebulan ia di rawat di rumah sakit. Meski baru saja sembuh dari sakit, namun Youngmin sama sekali tak menampakkan wajah yang murung justru dia terlihat begitu bahagia dan ceria, bagaimana tidak, kini ia dan Kwangmin serta Ayah dan Ibunya kembali tinggal di rumah yang sama seperti dulu. Ayah dan Ibu mereka memutuskan untuk kembali rujuk. Kabar tersebut membuat si kembar sangat senang. Mereka seperti menemukan nyawa mereka kembali.

“Selamat ya!” Ucap Hyo Byung pada Youngmin dan Kwangmin.

“Terima kasih.” Timpal Youngmin.

“Hyo Byung-ah ini juga berkat kamu kok.” Tambah Kwangmin seraya tersenyum.

Malam tiba, keluarga Jo tengah makan malam bersama. Canda dan tawa mengisi kebersamaan mereka. Tiada hal lain yang paling diinginkan oleh Youngmin dan Kwangmin selain bersatunya keluarga mereka. Dengan begitu, mereka akan merasa sempurna.

“Ayah dan Ibu seperti pengantin baru saja pakai suap-suapan segala.” Komentar Youngmin melihat tingkah kedua orangtuanya.

“Kalian pura-pura saja tidak lihat.” Timpal Ayah.

“Ayah, Ibu, pokoknya kami tidak mau punya adik.” Ucap Kwangmin tiba-tiba.

“Kalian ini berisik sekali. Memangnya kenapa kalau punya adik? Bukannya malah bagus. Kalian punya saudara lagi.” Kata Ayah.

“Ibu mau anak perempuan, sudah cukup dua anak laki-laki.” Komentar ibu.

“Shieroo!!” Seru Youngmin dan Kwangmin bersamaan.

*THE END*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: