FF Janus (We Are The Twins) PART 1

Author: Eka Pratiwi/Ekha Elfishy/Ekhaimnida/Kim Hyo Byung

Main Cast : Jo Youngmin and Jo Kwangmin Boyfriend

Other Cast: O.C. Kim Hyo Byung

Gendre: Family

Perceraian, setiap anak yang ada dunia ini tidak ingin hal tersebut terjadi pada orangtua mereka. Kebahagiaan dan keharmonisan menjadi hal yang paling ingin diwujudkan dalam setiap keluarga. Namun, tidak lagi dengan keluarga Jo. Keluarga yang dulunya harmonis itu harus mengecap kepahitan hidup hanya dengan kata cerai itu. Penderitaan tidak hanya dirasakan oleh sepasang suami istri yang pada awalnya telah berikrar untuk sehidup semati, kehancuran juga turut dirasakan oleh kedua putra mereka. Sejak mengetahui bahwa mereka tak akan pernah bisa menggenggam masa depan bersama sebagai keluarga lagi, keduanya pun berontak. Hal yang paling membuat mereka semakin terpuruk sebab mereka adalah saudara kembar. Ikatan saudara kembar selalu lebih kuat dari saudara lain.

Jo Youngmin dan Jo Kwangmin yang dikenal sebagai remaja yang ceria dan selalu penuh dengan semangat kini berubah seratus delapan puluh derajat. Bagi kedua saudara itu tak pernah ada lagi hari bahagia di hidup mereka. Mereka harus hidup terpisah, hal yang tak pernah mereka alami sebelumnya.

Tepat setengah tahun sudah mereka hidup terpisah. Keduanya jarang terlihat bersama bahkan di sekolah. Sekolah adalah tempat satu-satunya yang bisa mempertemukan Youngmin dan Kwangmin. Saat di sekolahpun, mereka tidak bisa mengesampingkan kenyataan bahwa mereka sudah terpisah, terpisah secara fisik namun tidak secara batin.

“Hyoung!” sapa Kwangmin pada Kakak kembarnya.

Youngmin menatap Kwangmin. Siang itu hanya ada mereka berdua yang bertengger di loteng sekolah sementara yang lainnya sedang menghambur ke kantin sekolah.

“Apa?”

“Bagaimana kabar Ayah?” Tanya Kwangmin.

“Dia agak sibuk belakangan ini.” Timpal Youngmin.

“Apa hyoung tidak ingin bertemu dengan Ibu? Belakangan ini dia sering salah memanggilku dengan nama Youngmin.”

Youngmin tak menimpali. Ia hanya tertunduk menyembunyikan titik air matanya yang akan tumpah. Kwangmin menarik napas panjang. Keduanya terdiam untuk beberapa saat, mencoba meredam kepiluan hati mereka.

“Apa kita harus melakukannya lagi?” tanya Youngmin tiba-tiba tanpa mengangkat kepalanya.

“Menurutmu?”

Youngmin mengangkat kepalanya perlahan lalu mengangguk kecil pertanda setuju.

Sepulang sekolah, Youngmin dan Kwangmin tak langsung pulang. Secara terpisah mereka bergegas menuju toilet sekolah. Saat suasana sekolah mulai sepi, mereka pun memulai aksinya. Youngmin dan Kwangmin bergantian seragam, tas dan sepatu serta aksesoris yang mereka kenakan dipertukarkan satu sama lainnya. Tahap terakhir, mereka hanya tinggal mengubah sedikit tatanan rambut yang hanya dibedakan dari belahan rambut mereka. Belahan rambut Youngmin yang awalnya berada di sebelah kanan dan Kwangmin di sebelah kiri, kini berbalik. Youngmin dan Kwangmin terbilang sudara kembar identik. Sulit membedakan keduanya, kecuali oleh orang-orang yang mengenal mereka dengan baik.

Setelah merasa yakin dengan penampilan mereka, mereka pun bertukar posisi. Youngmin yang biasanya pulang di jemput oleh supir Ayahnya kini harus pulang dengan bus yang biasa di tumpangi Kwangmin. Sementara Kwangmin yang berada di posisi Youngmin, sudah berada di sedan Ayahnya. Aksi mereka itu bukan baru sekali ini mereka lakukan melainkan sudah berkali-kali. Jika perasaan mereka tengah kalut dan tak mampu membendung kerinduan terhadap orang tua mereka, maka tak tanggung-tanggung mereka bertukar posisi tanpa sepengetahuan orang tua mereka.

“Youngmin-ah, kamu sudah pulang?” Youngmin yang baru saja tiba di rumah Ibunya langsung tersentak karena Ibunya menyapanya dengan namanya sendiri di saat ia sedang menyamar jadi Kwangmin.

“Ibu, aku…” ucap Youngmin terbata.

“Ah, Ibu ini kenapa sih. Maaf ya sayang, belakangan ini Ibu sering memanggilmu seperti itu padahal kamu bukan Youngmin.” Ungkap Ibu.

“Apa Ibu merindukan Youngmin hyoung?” tanya Youngmin ragu.

Ibu tertegun dengan pertanyaan itu. Ia enggan menatap putranya.

“Kamu ini ada apa sih? Baru pulang sudah bertanya yang macam-macam. Sudah sana, ganti baju dulu. Ibu sudah membuatkan makan siang untukmu.” Ibu mengusap kepala Youngmin dengan lembut.

Youngmin tak bergeming, tatapannya tak pernah lepas dari wanita yang selalu ia rindukan itu. Kedua ujung bibirnya terangkat. Terbesit seuntai kebahagiaan di hatinya yang luka. Ia tahu bahwa Ibunya pun tak pernah berhenti merindukannya, seperti halnya dia.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Kwangmin belum bisa selega Youngmin. Hingga malam tiba, Kwangmin masih terus menunggu Ayahnya pulang dari kantor. Kwangmin seharian hanya berkutat di ruang tengah rumah. Ruang tengah adalah ruangan terdekat dari ruang tamu. Ia bisa langsung tahu kedatangan Ayahnya jika berada di ruang tengah. Malang bagi Kwangmin, Ayahnya tak juga pulang padahal jam sudah menujukkan pukul sepuluh malam.

Alhasil, Kwangmin tertidur di sofa saat Ayahnya pulang. Dengan hati-hati, Ayah menggendong Kwangmin di punggungnya dan membawanya ke kamar Youngmin.

Pagi tiba, Kwangmin yang baru saja terbangung langsung melompat dari tempat tidurnya keluar kamar. Ia mencari sosok Ayahnya yang belum ditemuinya semalaman tadi.

“Ayah, mau kemana?” tanya Kwangmin ketika mendapati Ayahnya tengah menikmati sarapannya.

“Menurutmu kemana?”

Kwangmin memperhatikan pakaian Ayahnya yang mengenakan kaos kesebelasan Korea Selatan serta celana pendek lengkap dengan sepatu bola.

“Main bola?” tanya Kwangmin.

Ayah mengangguk seraya tersenyum.

“Youngmin-ah, kemari! Kita sarapan dulu, lalu pergi main bola.” Ucap Ayah dengan semangat.

Kwangmin pun mendekat. Rambutnya yang masih kusut membuatnya terlihat menggemaskan.

“Ayah tidak ke kantor?” tanya Kwangmin sesaat setelah bokongnya mendarat di kursi meja makan.

“Lalu kamu kenapa tidak ke sekolah?”

“Oh iya, ini kan hari libur.” Ucap Kwangmin tampak polos.

“Hari ini, kita akan bersenang-senang. Kamu mau melakukan apa saja hari ini?” tanya Ayah seraya mengunyah roti bakarnya.

“Apapun, yang penting bersama Ayah.” Jawab Kwangmin manis.

Wajah Kwangmin berubah sendu, ia tidak bisa menyembunyikan rasa harunya karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Ayahnya yang hampir sebulan tidak ditemuinya itu. Ayah adalah sosok pria yang selalu dibangga-banggakannya dan ia jadikan panutan. Bagi Kwangmin, Ayahnya adalah pria terhebat yang pernah ada.

Ayah dan Kwangmin pun berangkat ke salah satu gedung olah raga yang sering mereka kunjungi dulu bersama Youngmin juga. Diantara Youngmin dan Kwangmin, Kwangminlah yang paling bersemangat jika ditawari bermain bola oleh Ayahnya. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

Sementara itu, Youngmin menghabiskan waktu bersama Ibunya, menemani Ibunya berbelanja dan masak. Berhubung karena Youngmin dan Kwangmin tidak memiliki saudara perempuan, maka mau tidak mau dalam hal menemani Ibu berbelanja harus mereka lakukan. Setelah berbelanja, Ibu dan Youngmin langsung ke dapur untuk mengolah bahan makanan yang mereka beli tadi. Youngmin merasa sedikit khawatir kalau-kalau Ibunya memintanya untuk membantunya. Pasalnya, ia sama sekali tidak mengerti persoalan dapur, berbeda dengan Kwangmin yang setidaknya bisa memasak walau tidak begitu mahir.

“Kwangmin-ah, Ibu akan memasakkan makanan special untukmu.” Seru Ibu.

“Benarkah? Yeah, Ibu memang yang terbaik.” Timpal Youngmin tak kalah heboh.

“Kamu tidak perlu membantu Ibu.”

“Ibu yakin?”

“Lebih baik, kamu ke taman belakang saja, kolam ikan emas Youngmin sudah lama tidak dibersihkan, sekalian kamu beri makan ikan-ikan itu.”

Youngmin memang memelihara beberapa ikan emas pemberian kakeknya beberapa bulan lalu. Dan kebetulan sekali, Youngmin tidak perlu pusing berhadapan dengan pisau dan segala macam alat dapur, beruntung ia malah berkesempatan menyapa ikan-ikan kesayangannya itu.

Waktu berganti dengan cepat. Hari liburpun berakhir, dan itu tandanya mereka akan kembali ke sekolah dan bertukar posisi seperti sedia kala. Meski singkat, namun jurus bertukar posisi mereka setidaknya mampu menawar sedikit kerinduan yang menyiksa mereka.

Seperti biasanya, saat tengah di sekolah, Youngmin dan Kwangmin jarang terlihat bersama lagi. Keduanya bak kutub magnet, terkadang saling menghindari. Tak ada yang tahu bahwa mereka saling merindukan satu sama lain. Bagaimana tidak, sejak mereka belum terlahir di dunia, mereka sudah dipersatukan dalam janin dan pada waktu yang sama. Tak ada hari yang mereka lewati dalam keadaan terpisah satu sama lain, tapi keadaan kali ini berbeda. Sejak setengah tahun lalu, keadaan berubah. Mereka dipisahkan. Hal yang tak pernah terbayangkan oleh mereka berdua.

Sikap Youngmin dan Kwangmin yang semakin berjarak itu membuat teman-temannya berpikir bahwa keduanya benar-benar sudah mengubur jati diri mereka sebagai sepasang saudara kembar. Namun kenyataannya tidak. Ikatan selama tujuh belas tahun tak akan dengan mudah putus hanya dalam waktu setengah tahun. Keadaan yang membuat mereka harus bersikap realistis. Kenyataan bahwa orangtua mereka berpisah adalah dasar berjaraknya hubungan mereka.

Sepulang sekolah, Youngmin dijemput oleh supir Ayahnya sementara Kwangmin harus menunggu bus yang akan membawanya pulang ke rumah. Sesampainya Youngmin di rumah, ia cukup terkejut dengan kehadiran Ayahnya yang tidak biasanya pulang lebih cepat dari dirinya.

“Setelah makan siang, kamu harus ikut dengan Ayah ke suatu tempat.” Ucap Ayah tampak dingin.

Sebelum Youngmin sempat menimpali Ayahnya, Ayah pun berlalu begitu saja.

Meski kebingungan dengan sikap sang Ayah, tetapi Youngmin menurut saja ikut bersama Ayahnya. Sepanjang perjalanan mereka tak mengucap sepatah katapun. Firasat Youngmin mengatakan akan terjadi sesuatu hal yang tidak menyenangkan.

“Salon?” tanya Youngmin ketika mobil sedan hitam Ayahnya berhenti tepat di sebuah salon yang terbilang cukup mewah itu.

“Ayo masuk!” Perintah Ayah.

“Tapi untuk apa kita kesini, Ayah?”

“Jangan banyak tanya, masuk dan ubah tatanan rambutmu itu.”

“Tidak mau!”

“Tidak mau? Kamu pikir selama ini Ayah tidak tahu, kamu dan Kwangmin sering bertukar posisi kan?”

Youngmin terkejut mendengar ucapan Ayahnya.

“Kalian pikir bisa menipu Ayah dan Ibu kalian?”

“Ibu?”

“Iya, Ibumu juga menyadari hal ini. Kami memilih untuk diam karena tidak ingin menghancurkan perasaan kalian. Tapi hal ini tidak bisa terus dibiarkan.” Tutur Ayah, sementara Youngmin masih ternganga.

Dengan langkah berat, Youngmin memasuki salon tersebut, Ayah mengikuti tepat dibelakangnya.

“Lakukan!” Perintah Ayah kepada salah satu stylish rambut.

“Tidak!” teriak youngmin seraya mendorong keras tangan sang stylish yang akan mendaratkan tangannya di rambut youngmin.

“Youngmin-ah, jadi kamu ingin membantah Ayah?”

“Ayah, apa maksud Ayah melakukan semua ini?”

“Anggap ini sebagai hukuman buatmu.”

“Tapi…”

“Kamu benar-benar keras kepala. Ayah justru melakukan ini demi kebaikan kalian. Kenyataannya kita sudah tidak seperti dulu lagi, kamu harus terbiasa hidup tanpa Ibumu dan Kwangmin, kalau kalian seperti ini terus, kalian akan terus terluka.” Ungkap Ayah kemudian mengangkat wajahnya agar air matanya tak menetes.

“Baiklah jika menurut Ayah itu yang terbaik.” Ucap Youngmin pasrah.

Sang stylish pun mulai memainkan ketangkasan tangannya. Sedangkan Youngmin menatap kosong sosok pantulan cermin di hadapannya seraya menahan air matanya yang terus memaksa untuk mengucur.

Suasana sekolah sedikit berbeda dari biasanya. Sejak memasuki halaman sekolah, beberapa pasang mata melekatkan pandangannya pada Youngmin dengan rambut blonde barunya. Bahkan, teman-temannya yang awalnya bingung mengenali dirinya sebagai Youngmin atau Kwangmin sibuk mengomentari penampilan barunya.

Tidak berselang lama, Kwangmin tiba di kelas. Kembali, perhatian seluruh siswa teralihkan. Youngmin terkejut melihat potongan rambut Kwangmin yang lebih pendek dari sebelumnya. Reaksi yang sama diperlihatkan oleh Kwangmin saat melihat penampilan Youngmin.

Serta merta kelaspun menjadi gaduh. Mereka semakin semangat mengomentari penampilan baru saudara kembar yang memang populer di sekolah itu. Kwangmin dan Youngmin tampak tak peduli dengan keadaan di sekeliling mereka. Kwangmin melanjutkan berjalan menuju tempat duduknya namun langkahnya terhenti ketika tiba di dekat Youngmin.

“Akhirnya, rambutmu pirang juga.” Komentar Kwangmin.

Saat SMP, Youngmin pernah mengutarakan keinginannya untuk memiliki rambut pirang agar terlihat berbeda dengan Kwangmin.

“Potongan rambutmu keren.” Timpal Youngmin.

Keduanya saling bertatap, ada maksud lain dari tatapan mereka itu dan hanya mereka yang tahu. Kwangmin pun berlalu menuju tempat duduknya.

Youngmin melewati koridor sekolah. Ia sengaja melewati koridor-koridor yang sepi dilalui oleh siswa lain. Telinganya sudah cukup panas mendengar orang-orang yang dilewatinya mengomentari dirinya, entah itu komentar negative maupun positif. Dia hanya ingin menyendiri, tidak ingin seorangpun disisinya sekarang, termasuk Kwangmin. Ada setitik kebencian jika bayangan wajah-wajah orangtua mereka terlintas di pikirannya. Orangtua mereka sukses membuat mereka semakin menjauh.

Langkah panjang Youngmin terus membawanya ke ujung koridor. Seorang siswi yang berpapasan dengan Youngmin tiba-tiba menghampirinya.

“Jo Youngmin-Ssi!” Sapa siswi itu.

Youngmin tidak menggubris sapaan siswi itu. Siswi itu mulai naik pitam.

“Ya, Jo Youngmin!”

Siswi tadi lalu menarik lengan Youngmin.

“Apa maumu?” tanya Youngmin sembari menghempaskan tangan siswi itu yang tidak lain adalah teman sekelasnya.

“Aku mengerti kamu sedang badmood, tapi bisa tidak kamu bersikap sedikit sopan kepada temanmu sendiri, atau kamu sudah lupa kalau kamu masih punya teman?” ucap Kim Hyo Byung.

“Maaf!” Youngmin tertunduk menyadari kesalahannya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Hyo Byung.

Hyo Byung menatap lekat wajah namja di hadapannya. Youngmin tak bisa menyembunyikan keresahannya pada sahabatnya itu. Sejak orangtuannya bercerai, Youngmin menutup diri, bahkan dari sahabat-sahabatnya termasuk dari Hyo Byung.

“Mereka pasti senang melihat kami seperti ini.” Timpal Youngmin seraya menyandarkan punggungnya ditembok koridor.

“Tidak ada orangtua di dunia ini yang senang melihat anak-anaknya menderita.” Ucap Hyo Byung.

“Ada, orangtuaku misalnya.”

“Youngmin-ah…”

“Kalau kamu hanya ingin menghiburku dengan terus-terus membela orangtuaku, lebih baik kamu diam saja.” Ketus Youngmin.

“Iya.. iya.. aku mengerti.”

“Youngmin-ah, kamu benar akan pindah sekolah?” tanya Hyo Byung tiba-tiba.

“Pindah?”

“Tadi sewaktu aku masuk ke ruangan guru, aku mendengar para guru membicarakan itu.”

Youngmin terkejut. Wajah lesunya tadi berubah penuh amarah. Serta merta ia langsung menuju ruangan guru sementara Hyo Byung juga ikut menyusul Youngmin.

Sepulang sekolah Kwangmin memutuskan untuk tidak langsung pulang, ia terus-terus mencari sosok seseorang yang tak tampak batang hidungnya sejak istirahat tadi. Youngmin bolos pelajaran terakhir. Ia tiba-tiba menghilang tanpa sepengetahuan siapapun.

“Kwangmin-ah!” Sapa Hyo Byung dari kejauhan.

Kwangmin menghentikan langkahnya dan menunggu Hyo Byung yang sedang berlari menuju ke arahnya.

“Youngmin akan pergi.” Ucap Hyo Byung setelah sampai di hadapan Kwangmin.

“Pergi? Pergi kemana?”

*To Be Continued*tumblr_mcjrelsHX61rahn3no2_500

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: